Peran Musik Dalam Terapi Musik

16-Mar-2016 16:48:40 - Sudah dibaca 854 kali
Peran Musik Dalam Terapi Musik

AUTISME berasal dari bahasa Yunani, autos yang artinya “diri yang tak berdaya”. Menurut J.P Chaplin, ada tiga pengertian autism. Yang pertama, cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau diri sendiri. Kedua, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri dan menolak realitas, dan ketiga keasyikkan ekstrim dengan pikiran dan fantasi sendiri.

 

Karenanya, autisme adalah gangguan perkembangan neurologis kompleks yang disebabkan oleh gangguan dalam memproses informasi yang ditandai dengan gejala gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku.

 

Keadaan lain yang sering menyertai autisme adalah ketidakmampuan intelektual, gangguan koordinasi motorik, gangguan perhatian, gangguan tidur, bahkan gangguan pencernaan. Namun, beberapa penderita autisme justru menunjukan kemampuan yang tinggi pada beberapa bidang, seperti kemampuan visual, musik, matematika, dan seni.

 

Walaupun gangguan perkembangan otak pada autisme terjadi pada awal perkembangan anak, penyakit autisme umumnya baru dapat dideteksi pada umur 2-3 tahun, sehingga sulit bagi orang tua untuk mendeteksi lebih dini gangguan yang terjadi pada anak.

 

Penyebab autisme sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya autisme, yaitu faktor genetic, faktor hormonal, kelainan prenatal, proses kelahiran yang kurang sempurna, serta penyakit tertentu yang diderita sang ibu ketika mengandung atau melahirkan sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan fungsi otak terganggu.

Pengobatan autisme hingga saat ini belum ada, sehingga dapat dikatakan, penderita autisme tidak dapat disembuhkan, namun dapat dioptimalkan kualitas hidupnya. Terapi yang dilakukan pada penderita autisme lebih diarahkan pada terapi motorik, bicara, dan okupasi.

 

Konsep Terapi Musik
Penggunaan musik sebagai terapi sebenarnya telah ada sejak zaman kuno. Namun terapi musik sendiri berkembangan di Amerika baru mulai pada abad ke 18. Bukti-bukti tentang khasiat musik dalam penyembuhan dapat diketahui dari kitab suci dan tulisan-tulisan peninggalan sejarah dari bahasa Arab, Cina, India, Yunani, dan Romawi.

 

Terapi musik didefinisikan sesuai dengan berbagai kepentingan. National Association for Music Therapy di Amerika Serikat misalnya, mendefinisikan terapi musik sebagai penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis, yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan terapis tertentu melalui perubahan perilaku. Wigram mendefinisikan bahwa terapi musik adalah penggunaan musik dalam lingkup klinis, pendidikan , dan sosial bagi klien atau pasien yang membutuhkan pengobatan, pendidikan atau intervensi pada aspek sosial dan psikologis.

 

Dalam rumusan the American Music Therapy association, terapi musik secara spesifik disebut sebagai sebuah profesi dibidang kesehatan yang menggunakan musik dan aktifitas musik untuk mengatasi berbagai masalah dalam aspek fisik, psikologis, dan kebutuhan sosial individu yang mengalami cacat fisik.

 

Terapi musik terdiri dari dua kata yaitu terapi dan music. Kata terapi berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk membantu atau menolong orang. Biasanya kata tersebut digunakan dalam kontek masalah fisik atau mental. Dalam kehidupan sehari-hari, terapi terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, para psikolog akan mendengar dan berbicara dengan klien melalui tahapan konseling yang kadang-kadnag perlu disertai terapi, ahli nutrisi akan mengajari tentang asupan nutrisi yang tepat, ahli fisioterapi akan memberikan berbagai latihan fisik untuk mengembalikan fungsi otot tertentu.

 

Seorang terapis musik akan menggunakan musik dan aktifitas musik untuk memfasilitasi proses terapi dalam membantu kliennya. Kata musik dalam terapi musik digunakan untuk menjelaskan media yang digunakan secara khusus dalam rangkaian terapi. Berbeda dengan berbagai terapi dalam lingkup psikologi yang justru membantu klien untuk bercerita tentang permasalahan-permasalahannya. Terapi musik adalah terapi yang bersifat non verbal, dengan bantuan musik, pikiran klien dibiarkan untuk mengembara baik untuk mengenang hal-hal yang membahagiakan, membayangkan ketakutan-ketakutan yang dirasakan. Dengan bantuan alat musik, klien juga didorong untuk berinteraksi, berimprovisasi, mendengarkan atau aktif bermain musik.

 

Peran musik dalam terapi musik tentunya bukan seperti obat yang dapat dengan segera menghilangkan rasa sakit, musik juga tidak dengan segera mengatasi sumber penyakit. Dalam kaitannya dengan terapi, perbedaan jenis musik menuntut penggunaan musik yang berbeda pula. Musik dapat memberikan rangsangan terhadap aspek kognitif. Hal yang sama dikemukakan Campbell 2001 dalam bukunya Efek Mozart. Disebutkan bahwa musik Barok (Bach, Handel, dan Vivaldi) dapat menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar. Musik Klasik (Haydn dan Mozard) mampu memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Masih banyak lagi jenis-jenis musik lain mulai dari Jazz, New Age, Latin, Pop, lagu-lagu, Gregorian bahkan gemalan yang dapat mempertajam pikiran dan meningkatkan kreativitas. Gallahue mengatakan, kemampuan ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak.

 

Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan. Hasil penelitian Herry Chunagi pada 1996, dan Siegel pada 1999 yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak.

 

Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antar neuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan kognitif. Gordon shaw mengatakan kecakapan dalam bidang kognitif dilatih sejak kanak-kanak melalui musik. Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas dan kelas eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan kognitif menguat. Musik berhasil merangsang pola dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks.

 

Didukung pula oleh Martin Gardiner dan Goleman, keduanya mengatakan seni dan musik dapat membuat para anak lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi, ada hubungan logis antara logis dan kognisi (matematika) karena keduanya menyangkut skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika. Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional.

 

Manfaat Terapi
Musik tidak hanya berfungsi memfasilitasi perubahan positif pada perilaku manusia dewasa tetapi juga mempunyai pengaruh positif pada anak penderita autisme. Musik, menurut penelitian berperan sebagai rangsangan luar yang membuat anak nyaman, karena tidak terlibat kontak langsung dengan manusia. Manfaat terapi musik diantaranya adalah meningkatkan perkembangan emosi sosial anak. Saat memulai suatu hubungan, anak autisme cenderung secara fisik mengabaikan atau menolak kontak sosial yang ditawarkan oleh orang lain. Dan terapi musik membantu menghentikan penarikan diri ini dengan cara membangun hubungan dengan benda, dalam hal ini instrument musik.

 

Anak-anak autisme, berdasarkan hasil studi, melihat alat musik sebagai sesuatu yang menyenangkan. Anak-anak ini biasanya sangat menyukai bentuk, menyentuh dan juga bunyi yang dihasilkan. Karena itu, peralatan musik ini bisa menjadi perantara untuk membangun hubungan antara anak autisme dan individu lain. Manfaat lainnya, membantu komunikasi verbal dan nonverbal. Terapi musik juga bisa membantu kemampuan berkomunikasi anak dengan cara meningkatkan produksi vokal dan pembicaraan serta menstimulasikan proses mental dalam hal memahami dan mengenali. Terapis akan berusaha menciptakan hubungan komunikasi antara perilaku anak dengan bunyi tertentu.

 

Anak autisme biasanya lebih mudah mengenali dan lebih terbuka terhadap bunyi dibandingkan pendekatan verbal. Kesadaran musik ini dan hubungan antara tindakan anak dengan musik, berpotensi mendorong terjadinya komunikasi. Terapi musik juga mendorong pemenuhan emosi. Sebagian besar anak autisme kurang mampu merespon rangsangan yang seharusnya bisa membantu mereka merasakan emosi yang tepat. Tapi, karena anak autisme bisa merespon musik dengan baik, maka terapi musik bisa membantu anak dengan menyediakan lingkungan yang bebas dari rasa takut.

 

Selama mengikuti sesi terapi, setiap anak mempunyai kebebasan untuk mengespresikan diri saat mereka ingin, sesuai dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa membuat keributan, memukul instrumen, berteriak dan mengekspresikan kesenangan akan kepuasan emosi. Selain itu, terapi musik juga membantu anak autisme dengan mengajarkan keahlian social, meningkatkan pemahaman bahasa, mendorong hasrat berkomunikasi, mengajarkan anak mengekspresikan diri secara kreatif, mengurangi pembicaraan yang tidak komunikatif, dan mengurangi pengulangan kata yang diucapkan orang lain secara instan dan tidak terkontrol. (ryo/dari berbagai sumber)

Komentar
Tidak ada komentar
Nama
:
Email
:
Komentar
: